Berbahasa Indonesia Yang Baik dan Benar

Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar
Konsultasi Bahasa

UNGKAPAN gunakanlah bahasa Indonesia yang baik dan benar telah menjadi slogan yang memasyarakat, baik melalui jasa guru di lingkungan sekolah maupun jasa media massa. Beberapa hari yang lalu melalui telepon, ada permintaan untuk penjelasan konsep bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Oleh karena itu, pada kesempatan ini dijelaskan apakah sebenarnya makna ungkapan itu? Apa pula alat ukur bahasa yang benar? Supaya tidak hanya dapat mengucapkan slogan itu, tetapi dapat menerapkannya, marilah kita perhatikan kriteria bahasa yang baik dan benar berikut.

Kriteria yang digunakan untuk melihat penggunaan bahasa yang benar adalah kaidah bahasa. Kaidah ini meliputi aspek (1) tata bunyi (fonologi), (2) tata bahasa (kata dan kalimat), (3) kosakata (termasuk istilah), (4) ejaan, dan (5) makna. Pada aspek tata bunyi, misalnya kita telah menerima bunyi /f/, /v/, dan /z/.

Oleh karena itu, kata-kata yang benar adalah fajar, fakir (miskin), motif, aktif, vitamin, devaluasi, zakat, zebra, dan izin, bukan pajar, pakir (miskin), motip, aktip, pitamin, depaluasi, jakat, sebra, dan ijin. Masalah lafal juga termasuk aspek tata bunyi. Pelafalan yang benar adalah kompleks, korps, transmigrasi, ekspor, bukan komplek, korp, tranmigrasi, ekspot.

Pada aspek tata bahasa, mengenai bentuk kata misalnya, bentuk yang benar adalah ubah, mencari, terdesak, mengebut, tegakkan, dan pertanggungjawaban, bukan obah/robah/rubah, nyari, kedesak, ngebut, tegakan, dan pertanggungan jawab.

Pada aspek kosakata, kata-kata seperti bilang, kasih, entar, dan udah, lebih baik diganti dengan berkata/mengatakan, memberi, sebentar, dan sudah dalam penggunaan bahasa Indonesia yang benar. Dalam hubungannya dengan peristilahan, istilah dampak (impact), bandar udara, keluaran (output), dan pajak tanah (land tax) dipilih sebagai istilah yang benar daripada istilah pengaruh, pelabuhan udara, hasil, dan pajak bumi.

Dari segi ejaan, penulisan yang benar adalah analisis, sistem, objek, jadwal, kualitas, hierarki. Dari segi makna, penggunaan bahasa yang benar bertalian dengan ketepatan menggunakan kata yang sesuai dengan tuntutan makna. Misalnya, dalam bahasa ilmu tidak tepat jika digunakan kata yang bermakna konotatif (kiasan). Jadi penggunaan bahasa yang benar adalah penggunaan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa.

Kriteria penggunaan bahasa Indonesia yang baik adalah ketepatan memilih ragam bahasa yang sesuai dengan kebutuhan komunikasi. Pemilihan ini bertalian dengan topik yang dibicarakan, tujuan pembicaraan, orang yang diajak berbicara (kalau lisan) atau pembaca (jika tulis), dan tempat pembicaraan. Selain itu, bahasa yang baik itu bernalar, dalam arti bahwa bahasa yang kita gunakan logis dan sesuai dengan tata nilai masyarakat kita.

Sekarang ini, bahasa Indonesia tercemar oleh pengaruh asing yang tidak pada tempatnya—kenyataan ini menunjukkan sikap negatif terhadap bahasa Indonesia. Bahkan terkadang kita menempatkan bahasa Indonesia pada urutan kedua atau pada urutan yang dapat diabaikan sama sekali dalam menyampaikan pesan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Fakta ini dapat dilihat melalui penggunaan bahasa asing yang berlebihan dalam kain-kain rentang, papan reklame, pembicaraan pada situasi formal, dan sebagainya. Padahal, berbahasa Indonesia yang baik dan benar bukan prilaku berbahasa yang sulit.

Persoalannya adalah ada tidak keinginan kita untuk menghargai bahasa nasional kita sendiri? Atau kita lebih bangga berbahasa asing daripada bahasa Indonesia? Pada konteks ini kita sebagai warga negara Indonesia harus menunjukkan sikap positif dan bangga terhadap bahasa Indonesia.

Pemakaian bahasa yang sesuai dengan kaidah dan dengan situasinya merupakan salah satu sikap positif. Hal itu terjadi jika orang tidak asal jadi dalam berbahasa. Seandainya untuk keperluan resmi pun orang menganggap bahwa dalam berbahasa itu yang terpenting asal kawan bicara dapat menangkap maksud pembicara, dapat dikatakan bahwa orang itu tidak bersikap positif.

Persoalannya sekarang adalah bagaimana kita dapat memprioritaskan pemilihan bahasa yang sesuai dengan keperluan itu. Kecenderungan untuk menggunakan bahasa asing, kadang-kadang juga didorong oleh keinginan bergagah-gagahan dan memberi kesan tahu akan bahasa asing.

Akan tetapi, tidak jarang justru terjadi kesalahan yang memalukan. Di beberapa jalan, kita dapat melihat tulisan pada papan nama yang sedikit menggelikan, seperti aksesories, servisce, fotocopy. Ini adalah bahasa gado-gado. Sebetulnya, jika kata serapan itu akan dipakai, kita dapat menuliskan secara bersahaja dan benar: asesoris, servis, dan fotokopi. Itulah beberapa hal yang dapat menunjukkan sikap berbahasa Indonesia yang baik dan benar! (Prima Duantika)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: